Senin, 06 Desember 2010

San*

Sougi1 untuk Tatsuya Takenaga di pagi hari yang mendung. Entah cuaca turut berduka atas kepergian Tatsuya, atau memang hanya sekedar membersihkan polusi udara. Sougi dilaksanakan di kuil Yugishima. Tamu mulai berdatangan dengan kostum yang sama, hitam-hitam. Tamu-tamu tersebut adalah sanak saudara dan kenalan-kenalan Tatsuya dan Adinda. Semua mengucapkan rasa berduka cita dan berbela sungkawa kepada Adinda dan keluarga besar Takenaga.
Kyo tak terlihat di ruang pertemuan ini. Ia sedang berada di kolam yang berada di belakang kuil, meskipun masih termasuk daerah kuil. Duduk di pinggir kolam dengan tatapan sendu. Matanya bengkak, terlalu banyak menangis. Terdapat sekitar lima ekor ikan koi yang memang ikan khas Jepang. Kyo melemparkan beberapa kerikil ke dalam kolam. Ikan-ikan koi tersebut yang awalnya berenang berkumpul, menjadi tersebar terpisah-pisah. Seakan-akan ikan-ikan itu berkata, “Aku tau kamu lagi sedih karena kehilangan ayahmu yang pasti kau sayangi,kau kasihi, kau cintai; marah karena ayahmu pergi karena bom yang dipasang orang tak bertanggung jawab. Tapi jangan melampiaskan kesedihan dan kemarahanmu pada kami, dong! Lagi pedekate, juga! Sekarang lagi masa kawin kami, nih!” kepada Kyo. Tapi bagaimanapun juga Kyo tak akan dapat mendengarkan suara-suara amukan, ocehan, dan omelan ikan-ikan koi tersebut. Beda spesies, gitu!
Tanpa disadari oleh Kyo, Hanami Takahashi (Hanami), teman sepermainan Kyo sejak kecil, telah berdiri di belakang Kyo. Hanami sangat mengerti perasaan sahabatnya itu. Ia sendiri juga baru kehilangan kakek tercintanya bulan lalu. Leukimia. Padahal ia curhat tak lain dan tak bukan hanya kepada kakeknya tersebut. Bisa dibilang ia adalah cucu emas, cucu kesayangan kakeknya.
Tak ingin melihat Kyo yang terus murung seperti itu, ia pun berusaha menghibur teman sepermainannya itu.
“Kyo.” panggil Hanami dengan lembut sambil menyentuh pundak Kyo pelan.
“Ng.. Hanami.” jawab Kyo sedikit terkejut mengetahui keberadaan sohibnya itu.
“Aku boleh duduk di sebelahmu?” tanya Hanami.
“Hmm..” jawab Kyo sambil mengangguk mengiyakan. Hanami pun duduk di sebelahnya. Pakaiannya saat ini manis kalau tak bisa dikatakan cantik, tak sesuai suasana. Rok rempel hitam berbahan katun dengan pita-pita kecil berwarna putih dan merah kecil-kecil sebagai hiasan pengganti ikat pinggang, memberikan kesan gothic yang imut. Blus hitam dengan kerah tinggi dan lengan renda berwarna putih. Sangat sepadan dengan roknya. Kyo sendiri mengenakan celana kain biasa warna hitam dan kaus lengan panjang warna hitam. Memang terkesan biasa karena hari ini Kyo tak ada semangat untuk memilih pakaiannya. Kalau perlu ia hanya mengenakan piyama bergambar Kenshi, tokoh anime Samurai X, yang pasti akan dikomentari panjang lebar oleh Adinda sangking tak-sesuai-dengan-suasana-nya.
“Kamu masih sedih?” tanya Hanami.
“Sangat..” jawab Kyo pelan. Bisakah aku tak bersedih lagi sementara kejadiannya baru tadi malam? Ingin Kyo berteriak seperti itu, namun ia tahu Hanami hanya berusaha untuk menghiburnya. Meskipun ia tahu itu hanya usaha yang sia-sia.
“Yang tabah, ya…” ujar Hanami sambil memeluk sahabatnya itu2 menenangkan. Tanpa terasa air mata kembali membasahi pipi Kyo. Begitu juga Hanami. Ia teringat pada kakeknya.
“Kenapa harus Oto-san? Kenapa enggak aku aja? Kenapa enggak nunggu Oto-san keluar dari mobil, lalu mobil itu meledak? Kenapa ledakan itu harus terjadi di mobilku? Kenapa harus aku yang kehilangan Oto-san? Kenapa? Kenapa?” tanpa sadar Kyo telah terisak di pelukan Hanami. Hanami hanya bisa menepuk-nepuk pundaknya pelan.
“Kamu yang kuat. Ini hanya cobaan. Semuanya pasti ada balasan. Kalau kamu kuat, kamu juga akan dapat balasannya. Mungkin bukan saat ini. Mungkin di masa yang akan datang. Kamu harus tabah. Tuhan enggak mungkin kasih cobaan lebih berat dari kemampuan umatnya. Kalau pun kamu yang pergi, aku yang akan kasihan. Aku baru saja kehilangan kakekku. Kalau kamu juga ikut menghilang, aku akan kesepian. Kamu tau sendiri kalau aku selalu dikucilkan. Lain denganmu. Kamu orang yang kehadirannya selalu ditunggu teman-teman. Layaknya matahari yang dibutuhkan oleh semua makhluk hidup. Lain denganku. Aku hanyalah semi3 yang telah kosong di musim gugur. Ketika musim panas, anak-anak kecil akan menangkapku dan menyimpanku di rumah. Meskipun mereka tahu aku akan mati di musim gugur. Begitu pula denganku. Aku hanya dibutuhkan untuk sasaran contekan PR. Selebihnya hanyalah seorang gadis kecil tak dikenal.” jelas Hanami dengan sedikit terisak. Ia kembali teringat kakeknya.
“Maaf telah membuatmu mengkhawatirkan aku. Sampai menghiburku seperti ini segala. Aku sudah baikan sekarang.” ucap Kyo akhirnya. Ternyata kamu menghiburku dengan baik. Ia melepas pelukannya pada Hanami dan menghapus air mata yang ada di wajahnya dengan punggung tangannya. Ia juga menghapus air mata Hanami, baik yang telah terjatuh di pipi maupun yang masih tergenang di mata, dengan tangannya.
“Tak apa. Aku cukup tenang telah menangis seperti ini. Kita ke dalam, yuk!” ujar Hanami sambil tersenyum tipis. Ia mengulurkan tangannya mengajak Kyo.
“Baiklah.” jawab Kyo menggandeng tangan Hanami4 dan berjalan beriringan menuju ruang duka dengan senyum menghiasi wajahnya. Begitu pula dengan Hanami.
Mereka berjalan beriringan menuju ruang duka. Kembali terbayang di mata Kyo kejadian tadi malam. Berbelanja buku (yang banyaknya minta ampun),makan malam, ledakan mobil. Bahkan dalam mimpinya tadi malam, ia bertemu Tatsuya. Dalam mimpinya, Tatsuya mengenakan kimono5 hitam dengan obi6 putih. Beliau sedang minum ocha7 di depan kotatsu8.
Saat memasuki ruang duka, Kyo dan Hanami berjalan dengan riang. Bahkan Kyo bersenandung kecil, lagu Rolling Star dari YUI. Semua tamu memandang dengan pandangan berbagai makna yang berbeda : kasihan, aneh, lucu, kagum, laper, haus, ngantuk, sedih, senang, bahagia (apa bedaxnya?), mual, pusing, sakit perut, pegal linu, encok… Kenapa jadi ngawur gini???? -__-“
Dengan perlahan Adinda menghampiri Kyo. Hanami melepaskan genggaman tangan Kyo dan beranjak menuju tempat orangtuanya. Kyo yang masih bersenandung halus sambil tersenyum tak menduga ibundanya itu akan memeluknya. Kyo merasakan air mata terjatuh dari mata bening Adinda pada pundaknya. Dan Adinda terkejut ketika Kyo berbisik, “Mama-san, ini di tempat umum. Masa Mama-san tidak malu. Aku malu dipeluk di tengah kerumunan orang banyak ini.”. Segera saja Adinda melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya.
“Oh, ya! Kamu sudah mendoakan Oto-san?” tanya Adinda.
“Astaga! Aku lupa! Aku mau berdoa dulu ya, Mama-san!” seru Kyo dan berlari menuju ruang doa. Bagaimana mungkin anak sekecil itu harus kehilangan ayahnya? Dan bagaimana bisa dia sekuat itu menghadapi semua ini? Sedangkan aku masih saja menangisi kepergian Tatsuya? Pertanyaan itulah yang muncul dalam hati Adinda.
Di ruang duka, Kyo berdoa dengan khusyuk untuk ayahnya. Tak lama kemudian, doanya selesai. Maka ia beranjak pergi menuju tempat Hanami. Hanami yang sedang ngobrol dengan sepupunya, Nadeshiko Fujisaki, menghentikan obrolannya dan mengalihkan pandangannya menuju Kyo yang telah menyentuh pundaknya.
“Hanami-chan, arigatou..” ujar Kyo.
“Sama-sama, Kyo-kun.. Bukankah kita bersahabat?” ujar Hanami.
“Iya. Kita bersahabat. SELAMANYAAAA!” jawab Kyo dengan meneriakkan kata selamanya. Hanami menutup kupingnya sangking kerasnya suara Kyo yang entah kenapa cempreng. Langsung saja para tamu yang datang mengalihkan semua perhatian mereka dan menghentikan apapun yang sedang mereka kerjakan tadi. Wajah Haami merah padam karena malu ketika menyadari dia dan “sahabat selamanya” ini jadi pusat perhatian semua tamu. Bahkan sampai para pengantar rangkaian bunga tanda duka dari kerabat-kerabat jauh yang tak bisa hadir menjatuhkan rangkaian bunganya. Untung saja tidak rusak. Ketika menyadari jadi pusat perhatian, Kyo tertawa pelan dan meminta maaf pada semua yang telah memperhatikan dirinya dan Hanami.

*tiga
1 ritual pemakaman orang yang meninggal
2di jepang, tak ada batas antara cewek dan cowok. Lain dengan Islam. Jadi, jangan diikuti, ya… ^_^
3sejenis jangkrik yang muncul hanya saat musim panas
4yang ini juga enggak boleh diikutin.! Kan bukan mukhrim, jadi enggak boleh bersentuhan sedikit pun .!
5pakaian adat Jepang
6sabuk
7teh
8meja kecil dan rendah dengan penghangat kaki

Ni*

Di dalam mobil, mereka tetap tenggelam dalam sunyi. Tatsuya duduk di depan kemudi. Adinda di sampingnya. Sedangkan Kyo duduk sendirian di belakang. Mereka semua hanya terdiam dengan ekspresi tegang kecuali Kyo yang terlihat bosan sedang melukis dalam udara.
Semua kesunyian itu akan terus berlanjut jika Kyo tidak mengucapkan kalimat yang mengejutkan di tengah perjalanan pulang.
“Can you turn on the radio1? It’s too quite until I’m sleepy2.” pinta Kyo.
“Mimizu okunai renji3!” latah Tatsuya.
“Yakitori4!” latah Adinda.
“Lho? Kok jadi pada latah setelah makan tadi? Eh, bukan! Setelah baca surat titipan! Memangnya isinya apa sih,Oto-san?” tanya Kyo mencurigai.
“Oh! Radio? Baiklah.” jawab Tatsuya.
Surat? Surat yang mana?” Adinda balik bertanya.
“Arigatou, Oto-san. Mama-san, masa lupa sama surat yang tadi dititipkan …….”
“Oh! Surat yang itu. Bukan apa-apa. Lebih baik kau tidur. Radionya juga telah dinyalakan,bukan?” jawab Adinda meyakinkan Kyo.
“Soredawa…” jawab Kyo menuruti dengan pasrah. Ia pun berbaring di sofa mobil, menghadap kursi Tatsuya. Tak sengaja ia melihat sebuah tas besar yang terlihat berat. Ia pun bertanya, “Oto-san, apa isi anata no kaban5,6 di bawah kursimu?”
Mendengar pertanyaan Kyo, Tatsuya mengerutkan keningnya. Membuat kerutan di wajahnya bertambah. Maka Tatsuya menjawab, “Tas? Oto-san tidak membawa tas apapun selain tas berkas yang tadi Oto-san bawa.”
Tatsuya pun menghentikan mobilnya ke pinggir jalan. Ia melirik ke bawah dan menambah kerutan di wajahnya ketika ia melihat tas itu juga. Ia pun menarik tas itu. Di tas itu terhubung kabel dengan kursinya. Ia terkejut dan segera beseru, “Kyo, Adinda, cepat turun dari mobil dalam sepuluh detik!”
“Tapi, kenapa?” tanya Kyo bingung.
“Turuti saja apa kataku! Hayaku7!” Tatsuya mulai berteriak.
“Cepat turun saja, Kyo!” jerit Adinda.
Dengan enggan Kyo turun dari mobil diikuti Adinda. Di setiap langkah mereka, Adinda berkomat-kamit berdoa semoga tidak terjadi hal buruk apapun. Sementara Kyo ngedumel sendiri dengan langkah kaki yang menghentak keras. Tak perlu waktu lama untuk merasakan mobil itu meledak terbakar. Shoushitsu8. Dan pada saat yang bersamaan Kyo dan Adinda menjerit, “Kyaaaaaaaaaaaa!!!!”, terduduk, dan terisak sesegukan.
Sekitar lima belas menit kemudian, kepolisian terdekat menghampiri mereka. Ketika itu juga Adinda dan Kyo tidak berubah posisi maupun kegiatan. Terduduk dan menangis. Mau apa lagi yang dilakukan? Mengamuk? Tak akan menyelesaikan masalah! Hanya akan merugikan diri sendiri dan orang lain. Mengganggu masyarakat sekitar.
Polisi pun menginterogasi Adinda dan Kyo. Adinda hanya menjawab sekadarnya layaknya mayat hidup, tak ada ekspresi. Sedangkan Kyo tidak menjawab satu pertanyaan pun, tetap bergeming berdiam terisak. Polisi yang berusaha menenangkan mereka akhirnya menyerah. Mereka kembali ke pos masing-masing.
Adinda dan Kyo memilih pulang naik taksi dari pada diantar polisi. “Sejujurnya kami masih shock dan membutuhkan ketenangan tersendiri. Gomenasai9.” ujar Adinda ketika ditawarkan untuk diantarkan pulang oleh polisi sambil membungkukkan badannya. Kyo masih tak bereaksi hingga di dalam taksi. Tak ada lagi Kyo yang ceria, penuh humor, cerewet. Tak ada lagi senyuman manis Kyo, humoran Kyo, tawa Kyo, rengekan Kyo. Hilang semua. Yang tersisa hanyalah tangis Kyo, air mata Kyo, penyesalan Kyo.
Begitu pula dengan Adinda. Adinda yang dahulu penuh kehangatan, kelembutan, keramahtamahan. Saat ini menjadi Adinda yang pemurung, terus-menerus bersedih, sering melamun. Meski pun ini baru beberapa jam setelah kepergian Tatsuya yang memang “mendadak” dan “tak terduga” itu. Namun, siapa yang dapat mengatur hidup seseorang? Siapa yang dapat memutar kembali waktu? Siapa yang dapat menghidupkan seseorang yang telah meninggal?
Pada akhirnya, mereka telah tiba di apato10 Takigawa. Setelah membayar taksi, mereka berjalan menuju ruang apato mereka, 107. Setelah memasuki pintu otomatis apato Takigawa, mereka berjalan menuju lift yang memang berada di sebelah reception. Lift beranjak naik menuju lantai 6. 101, 102, 103, 104, 105, 106, 107! Dengan segera Adinda memasukkan kunci apato, memasukinya bersama Kyo, dan mengunci pintunya kembali.
Tanpa ada pembicaraan lagi Kyo memasuki kamar mandi untuk melakukan kegiatan yang memang telah menjadi kesehariannya : sikat gigi sebelum tidur, cuci kaki, cuci tangan, dan cuci muka. Setelah semua rutinitas tersebut selesai, Kyo mengganti pakaiannya yang penuh abu berwarna hitam dengan piyama. Lalu pergi menuju kamar tidurnya. Masih tanpa berbicara. Di kamarnya, iia berbaring di tempat tidurnya. Air mata yang telah terhenti tadi kembali menetesi pipinya. Sayang, matanya tak bisa diajak kompromi. Segera saja ia tertidur menuju dunia mimpi.
Tak berbeda dengan Kyo, Adinda segera memasuki kamar mandi dan melakukan rutinitas yang sama : sikat gigi, cuci kaki, cuci tangan, cuci muka, dan ganti baju. Di kamarnya, ia berbaring di kasurnya sambil menangis kembali menatapi foto Tatsuya yang sedang tersenyum ringan. Bagaimanapun juga, Tatsuya adalah suaminya. Suami yang sangat dicintainya. Suami yang sangat mencintainya. Suami yang mampu menghentikan air matanya yang menghujani pipinya seperti saat ini.
Berbeda dengan Kyo, matanya sudah lelah namun tak bisa diajak kompromi untuk tidur. Pada akhirnya, Adinda terjaga hingga pagi. Menangisi foto Tatsuya.

*dua
1bisakah kau menyalakan radio
2ini terlalu sunyi sehingga aku mengantuk
3cacing dalam kompor
4sate ayam
5tas milikmu
6orang-orang di Jepang, terhadap orang yang akrab, sekali pun orang tersebut lebih tua, mereka tetap memanggilnya “kamu” atau dengan sebutan nama.
7cepat, segera
8hangus terbakar
9maafkan saya
10apartemen

Ichi*

Seorang bocah kecil dengan riang berlari-lari mengelilingi pohon natal di Hirosima Store, Hirosima, Jepang. Seorang wanita separuh baya memanggilnya. Namun tak terdengar oleh si bocah sangking ramainya department store terbesar di prefektur Hokkaido ini. Akhirnya wanita itu menghampiri sang bocah kecil dan dengan lembut berkata kepadanya.
“Kyo, pulang yuk! Hari ini Oto-san2 masih ada kerja.”
“Haik1, Mama-san. Tapi beliin sashimi rusa sama mugicha3, ya! 2 gelas!” jawab bocah tersebut yang bernama Kyo.
“Banyak sekali! Nanti kamu sakit perut sangking kembungnya. Terus enggak bisa ngabisin sashimi-mu. Ingat! Kamu harus makan nasi! Kamu terlalu kurus untuk anak seumuran kamu!” Mama-san memperingatkan.
“Tenang aja, Mama-san. Kan Mama-san tau aku tuh rakus, tapi aku memang enggak bisa lebih gemuk lagi…” elak Kyo.
Tanpa sadar seorang pria yang juga separuh baya menghampiri pasangan ibu-anak yang sedang berdebat tersebut.
“Hei, mau sampai kapan berdebatnya? Sudah mendapatkan apa yang kalian berdua cari?” tanya lelaki separuh baya itu.
Bocah kecil yang dipanggil Kyo tersebut langsung menoleh dan menghampiri lelaki separuh baya itu, lalu berseru, “Mochiron4, Oto-san..Oto-san sendiri sudah dapat berita di sini?”
“Kalau belum, tak mungkin Oto-san datang kesini. Kalau gitu, ayo kita pulang! Oto-san masih perlu ke Shimane meliput berita. Oto-san juga menginap di sana tiga malam.” jawab lelaki separuh baya yang disapa Oto-san itu secara rinci.
“Tunggu apa lagi? Ayo ke Sashimiamu, restoran sashimi yang ada di dekat pintu masuk.” ujar Mama-san tiba-tiba.
“Sashimiamu? Mau ngapain kita ke sana, Dinda-san?” tanya Oto-san yang terkejut.
“Tatsuya-kun, Kyo-san lagi kumat laparnya. Dia minta sashimi dan mugicha, nikoppu5.” Mama-san mengadu. Sementara itu, Kyo yang sudah dalam gendongan Oto-san alias Tatsuya Takenaga hanya cengengesan.
“Nikoppu?! Sampai sashimi-mu ga’ abis, tiba di rumah kamu HARUS makan ramen!” ancam Tatsuya dengan penekanan di kata harus.
“Ramen?! Gak mau! Kan Oto-san tau kalo aku benci ramen. Apa lagi babinya! Yakks…” rengek Kyo dengan cepat dan nada jijik.
“Pokoknya harus habis!” Tatsuya memperingatkan.
“Kome no gohan6!” tambah Dinda alias Adinda Aprilia.
Dengan menempelkan tangan ke kening, Kyo berseru, “Siap, boss..” . Lalu mereka bertiga berjalan beriringan. Terkadang diselingi candaan, baik dari Kyo maupun Tatsuya. Kalau Adinda hanya senyum-senyum saja. Ditengah-tengah perbincangan keluarga tersebut, Tatsuya bertanya, “Kyo tadi beli apa aja?” dan jawaban Kyo adalah, “Manga7 dan novel, Oto-san.. Tapi, hehehe... (nyengir kuda yang sangat mencurigakan. -_-‘)”
Dengan dahi berkerut mencurigai, Tatsuya bertanya, “Tapi apa?”.
“Jangan marah ya,Oto-san. Aku beli lima manga7 dan tiga novel…” jawab Kyo sambil mengedip-ngedipkan matanya. Merayu.
“Tak apa. cukup tidak ada uang jajan seminggu.” jawab Tatsuya dengan mimik wajah yang santai tanpa dosa.
“Yah… Masa kayak gitu,sih? Terus aku jajannya bagaimana?” tanya Kyo yang sudah panik-panik kayak cacing kepanasan.
“Ya, enggak usah jajan.” ujar Tatsuya masih dalam ekspresi santai.
“Kok gitu?? Nanti aku lapar…” rengek Kyo yang masih berusaha keras membujuk Tatsuya yang tetap pada pendiriannya.
Setelah lama terdiam (dengan tersenyum geli), Adinda pun angkat bicara (serasa sedang sidang) yang membuat Kyo sangat terkejut, “Nanti akan Mama-san buatkan bekal makan siang. Nanti kamu bawa ke sekolah.”
Semua berdiam diri ditempat masing-masing. Kyo langsung melongo mendengarnya. “ . . . . ” Tak ada jawaban yang keluar dari mulut kecil Kyo. Lalu secara tiba-tiba ia pun menjerit, “Tidaaaaakkkk ! ! ! ! !”
“Hahahahahhahahahahaha…”. Secara mengejutkan pasangan suami istri ~Tatsuya-Adinda~ tertawa terbahak-bahak bersamaan hingga menarik perhatian pengunjung department store yang memang pada saat itu sedang ramai. Kyo hanya bisa menatap dengan tak percaya dengan apa yang ia lihat, dengar, dan rasakan saat itu.
“Aduuh.. (sambil memegangi perutnya yang kesakitan karena tertawa) Gimana bisa kamu sepolos itu,Kyo… Enggak mungkin lah, sampai tidak dikasih uang jajan. Paling tidak hanya dikurangi.” Adinda menjelaskan masih dengan sedikit tertawa geli yang tidak bisa ia tahan lebih lama lagi.
Terdiam sejenak, lalu Kyo pun turut tertawa, “Hahahaha… Polosnya aku.. Oto-san juga! Serius betul ngomongnya..” sambil sedikit cemberut karena baru menyadari bahwa dia diisengi orang tuanya.
“Oto-san??? Kan salah Kyo sendiri terlalu percaya pada Oto-san. Lagi pula Mama-san juga salah, lho!” ujar Tatsuya membela dirinya.
“Wah… wah… Jangan sangkut pautkan Mama-san,ya.. Kan Oto-san yang mulai duluan.” pembelaan pun keluar dari mulut Adinda.
“Ini lagi! Kenapa jadi pada saling nuduh,sih? Kan Oto-san dan Mama-san sama-sama salah. Jadi, enggak usah saling menyalahkan.” Ucap Kyo dengan gaya sok bijak.
“Ehem… Udah ada yang bisa berkata bijak,nih…” goda Mama-san.
“Dari pada Oto-san dan Mama-san? Masa saling menyalahkan hanya karena masalah sepele begini?” kata bijak keluar lagi dari mulut Kyo.
“Kamu dapat dari mana kata-kata bijak kayak gitu?” tanya Tatsuya.
“Hehehe… Nyontek di tv.” jawab Kyo sambil nyengir kuda untuk yang kesekian kali x.
“Ya sudah. Sekarang kita mau masuk ke Sashimiamu atau tidak?” tegur Adinda.
“Mau, dong! Laper banget, nih… Cacing-cacing di perutku sudah konser rock n’ roll dari tadi.” jerit Kyo.
Mereka pun berjalan masuk ke restoran Sashimiamu tersebut dan memilih meja nomor 17 yang berada di sebelah dinding kaca yang memperlihatkan keadaan di luar Nagasaki Store saat malam hari. Di belakang mereka, secara berturut-turut terdapat meja nomor 18, 19, 20, dan 21. Meja nomor 18 kosong. Meja nomor 19 dan 21 tempati satu orang pria yang sama-sama berpostur salesman. Meja nomor 20 ditempati oleh empat anak remaja yang sedang bersenda gurau.
Seorang pramusaji datang menghampiri keluarga Takenaga. Kyo pun memesan apa yang telah ia inginkan malam itu. Tatsuya memesan sashimi ikan salmon dan iced lemon tea. Adinda memesan sashimi kerang dan iced orange. Pramusaji tersebut segera meninggalkan meja nomor 17 tersebut.
Sebelum pramusaji itu pergi ke kasir, pelanggan meja nomor 19 memanggilnya dan membicarakan sesuatu yang dijawab oleh pramusaji tersebut dengan anggukan. Kyo yang senang memperhatikan, tak sengaja melihat kejadian tersebut.
Tak berselang lama, pramusaji itu kembali. Namun sempat mampir ke meja nomor 19. Pria di meja 19 tersebut menitipkan secarik kertas. Setelah menerima kertas tersebut, pramusaji itu menghampiri meja 17.
“Horee!! Tante, apa yang tadi dikasih sama om di sana?” tanya Kyo dengan kepolosan yang terukir di wajahnya sambil menunjuk meja nomor 19.
“Oh! Tadi ada pesan dari om disebelah sana untuk ayahmu. Katanya penting.” jawab pramusaji. Dia pun menyerahkan kertas tadi kepada Tatsuya. Setelah membacanya, seketika wajah yang tadinya memancarkan kehangatan yang mendalam berganti dengan wajah penuh kecemasan serta kekhawatiran.
“Arigatou, Ojyou-san8.” Tatsuya berterima kasih walaupun masih dengan mimik wajah cemas. Pramusaji tersebut segera beranjak pergi setelah menyajikan semua pesanan.
“Itadakimasu9!” seru Kyo dengan riang dan wajah yang berseri-seri.
“Tatsuya-kun, apa isi surat itu?” tanya Adinda dengan berbisik kepada Tatsuya. Yang bersangkutan wajahnya semakin pucat. Lalu dengan sedikit menunduk untuk menyembunyikan wajahnya dari Kyo yang sedang dengan riangnya memakan sashimi, Tatsuya berbisik, “Thomas Mcland telah kembali dan sedang mengincarku.”
“Siapa itu Thomas Mcland, Tak-kun? Apa hubungan Tak-kun dengan orang itu?” tanya Adinda disertai keterkejutan yang mendalam.
“Thomas Mcland, orang Melbourne dan seorang pembunuh bayaran. Yang telah kusuruh membunuh lawan bisnisku sebelum bertemu Dinda-san. Orang yang sebenarnya licik, namun entah mengapa Tak-kun percaya padanya ketika itu. Ia meminta bayaran yang sangat tinggi dan Tak-kun menyetujuinya dan akan membayarnya transfer bank. Namun lawan bisnisku itu tidak terbunuh, hanya koma. Hingga sekarang. Maka aku tidak jadi membayarnya.” Tatsuya menjelaskan.
“Dan apa yang ia tulis?”
“Ia tetap menginginkan bayaran dan ini perintah ketua kelompoknya.”
“Ketua kelompok apa? Bukankah dia bekerja sendiri?” keterkejutan tak henti-hentinya tergaris di wajah Adinda.
“Iie10. Dia bekerja dengan kelompok pembunuh bayaran KIB dan aku menyewanya. Dan dia gagal melaksanakannya sehingga aku tak membayarnya. Aku telah mengkomplain ke KIB, namun mereka tetap ngotot meminta bayaran. Dan aku tetap menolaknya. Kudengar dia telah tewas dalam tugas belum lama ini. Namun ternyata dia masih hidup saat ini.” Tatsuya menjelaskan.
“Lalu, bagaimana sekarang? Apa yang harus kita lakukan?” tanya Adinda panik. Kepanikan itu terbaca oleh Kyo yang hampir menghabiskan sashimi dan gohannya.
“Kenapa, Mama-san?” tanya Kyo heran.
“Tak ada apa-apa. Sebaiknya cepat kamu habiskan shokubutsu12 dan kita pulang. Banyak yang harus Oto-san persiapkan.” jawab Tatsuya sebelum Adinda menjawab.
“Ng… soredawa11, Oto-san.” ucap Kyo ragu. Kyo pun mempercepat makannya. Tatsuya dan Adinda juga menghabiskan makannya dengan sangat cepat. Tak ada suara yang terucap sedikit pun setelah itu hingga Tatsuya membayar seikyuu13. Mereka pun keluar dan menaiki mobil. Tak ada yang menduga hal ‘itu’ terjadi hingga saatnya tiba.

*satu
1ayah
2baik
3teh gandum
4tentu
5dua gelas
6dengan nasi
7komik Jepang
8terima kasih, mbak
9selamat makan
10tidak
11baiklah
12makan malam
13tagihan

Kesabaran Berbuah Persahabatan

“Aiko, pinjam pulpen!”
“Aiko, pinjam rubik!”
“Aiko, pinjam ikat rambut!”
“Aiko, pinjam ikat pinggang!”
“Aiko, pinjam komik!”
Selalu aja kayak gitu! Barang-barangku dipinjam Selena, tapi gak pernah dikembaliin! Kalo pun dikembaliin, pasti dalam keadaan rusak! Tapi, aku gak bisa nolak. Dia temanku sejak SD. Sampai sekarang aku selalu sekelas dengannya. Dan aku sudah diamanahkan ibunya Selena untuk selalu membantu Selena. Jadi aku cuma bisa sabar.
“Aiko, pinjam catatan matematika, dong!” ujar Selena ketika sedang bersiap-siap pulang.
“Memangnya kenapa?” tanyaku.
“Hehe… Tadi aku ketiduran..” jawabnya sambil cengengesan.
“Ckckck…” kataku sambil menggelengkan kepala.
“Boleh, ya???” pintanya lagi.
“Iya, iya.. Nih. Tapi kembaliin besok, ya!” kataku seraya menyerahkan catatan matematika milikku.
“Makasih, Aikoo! Kamu baik, deh!” seru Selena sambil tersenyum seraya mengambil catatanku.
“Hmm.. Apa katamu, deh..” kataku.
“Hehe.. Dadaaaah..” pamit Selena lalu beranjak pergi..
Besoknya aku menghampiri Selena di tempat duduknya.. Untung saja aku sekelas dengannya, jadi bisa kutagih catatanku langsung setelah tiba di kelas.
“Selena, bukuku mana?” tanyaku.
“Oh, iya. bentar.” jawab Selena seraya mengambil buku catatanku dari tasnya. ”Nih bukumu. Makasih, ya….” ujarnya sambil menyerahkan buku itu padaku. Saat aku menerimanya, aku kaget dengan kondisi bukuku!
“Kok jadi lecek gini, halamannya?! sampulnya kok robek?!” seruku.
“Ah, itu…”
“Selalu aja kayak gini! Kamu selalu minjam barang-barangku, tapi dikembaliin dalam kondisi rusak!” seruku memotong ucapan Selena.
“Maaf, Aiko. Aku…”
“Gimana aku mau belajar, kalo bukuku kayak gini?? Aku benci kamu!” seruku memotong ucapan Selena lagi seraya berlari keluar kelas. Terserah mau jadi pusat perhatian atau apa!
Tiba-tiba, aku menabrak seseorang. Begitu kulihat siapa yang kutabrak, aku benar-benar ketakutan! Gawat, dia ketua The Yankees, kelompok yang semua anggotanya cewek dan ditakuti seluruh murid. Dia kakak kelasku. Ada anggota The Yankees lainnya juga, lagi!
“Ma.. maaf, kak..” ucapku terbata-bata.
“Maaf katamu?! Kamu kira cukup minta maaf?!” seru Kak Bianca, sang ketua geng.
“Ta.. tapi, kak. A.. aku gak sengaja..” ujarku masih terbata-bata.
“Gak ada tapi-tapian!” seru Kiara, salah satu anggota The Yankees, sambil menarik tanganku. Dan itu sakit!
“Kiara, lepasi!” tiba-tiba teriakan Selena terdengar. Memang, Selena lumayan dekat dengan The Yankees.
“Hai Selena! Mau gabung? Ada yang cari masalah, nih.” ajak Kak Bianca.
“Dia temanku, kak. Tolong lepasin dia.” ucap Selena.
“Oh, dia temanmu?” tanya Kak Bianca.
“Untung kamu temannya Selena!” seru Kiara sambil melepaskan tarikannya seraya mendorongku.
“Mau ikut, Sel?” tanya Bianca.
“Gak usah, kak. Aku mau diskusi sama teman buat tugas kelompok.” jawab Selena.
“Oh, ya udah.. Duluan, ya.” kata Kak Bianca seraya pergi diikuti anggota The Yankees lainnya.
“Makasih, Sel. Kamu udah nolongin aku.” kataku.
“Gak usah dipikirin. Anggap aja ini permintaan maaf aku karena selalu ngembaliin barang-barang kamu dalam keadaan rusak.. Yang ngerusak itu adekku, pelampiasan kalo dia marah sama Kak Bianca.” jelas Selena.
“Kak Bianca kakakmu?!” tanyaku. Beneran, deh! Aku baru tau!
“Sssttt!!! Jangan keras-keras ngomongnya.. Iya, dia kakakku. tapi kamu diem-diem aj,yaa..Kan kamu sahabatku..” pinta Selena..
Huft.. Selena memang anak yang selalu penuh kejutan.. Namun, kejutannya itu membuatku bersahabat dengannya.. x)

Lima Ribu dengan Keikhlasan

Laras sudah seharian menjajakan buah potong dagangannya di depan Balikpapan Plaza, dekat jembatan penyeberangan. Baru dapat lima ribu dan masih banyak buah yang belum terjual. Sementara matahari sudah mulai terbenam. Maka Laras memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Baru di depan Toko Bazaar, seorang pengemis dating menghampirinya.
”Nak, minta duit, nak. Ibu belum makan tiga hari.” ujar pengemis itu.
Laras bingung. Ia belum makan dari pagi. Uang yang ia punya hanya lima ribu, hasil dari berjualan seharian. Tapi, pengemis itu juga kasihan. dia belum makan tiga hari dan dia tidak memiliki uang sama sekali. badannya pun kurus kering.
Laras ingin memberikan uangnya pada pengemis itu. Tapi kalau ia memberikan uangnya, berarti hari ini ia tidak makan. Lalu Laras teringat akan perkataan ibunya suatu ketika, “Kalau kamu ingin bersedekah, jangan setengah-setengah. Dan haruslah dengan ikhlas, jangan pamrih.”.
“Ini, bu. Lumayan, bisa buat beli nasi bungkus.” kata Laras sambil tersenyum seraya memberikan uangnya, lima ribu, kepada pengemis itu.
“Terima kasih, nak.. Semoga kamu dirahmati oleh Allah SWT, dilimpahkan rezeki oleh-Nya.” do’a pengemis itu.
“Amiiinn..” ujar Laras sambil masih tersenyum dan beranjak pergi. Tak berapa lama, tiba-tiba ada seorang ibu yang memanggilnya.
“Dek, berapaan buahnya?” tanya ibu itu.
“Yang mangga tiga ribu, yang jambu dua ribu, yang campur lima ribu. Ibu mau yang mana.?” tanya Laras.
“Hmm.. Yang mangga tiga bungkus, yang jambu tiga bungkus, yang campur tiga bungkus.” jawab ibu itu.
Dengan cekatan Laras mengambil pesanan ibu itu dan menyerahkannya.
“Ini, bu. Semuanya tiga puluh ribu.” ucap Laras.
“Makasih, dek.” kata ibu itu sambil menerima pesanannya dan membayarnya pada Laras. “Kamu sudah makan?” tanya ibu itu.
“Belum, bu.” jawab Laras.
“Kalau begitu, kamu temani ibu makan, ya? Nanti ibu belikan juga buat kamu.” pinta ibu itu.
“Ah, gak usah, bu. Saya juga sudah mau pulang. Sudah sore.” tolak Laras halus.
“Gak apa-apa! Ibu yang bayarin!” ujar ibu itu sambil tersenyum seraya menarik Laras memasuki salah satu restoran di Balikpapan Plaza.
Akhirnya, Laras dibelikan burger dan soft drink.