“Aiko, pinjam pulpen!”
“Aiko, pinjam rubik!”
“Aiko, pinjam ikat rambut!”
“Aiko, pinjam ikat pinggang!”
“Aiko, pinjam komik!”
Selalu aja kayak gitu! Barang-barangku dipinjam Selena, tapi gak pernah dikembaliin! Kalo pun dikembaliin, pasti dalam keadaan rusak! Tapi, aku gak bisa nolak. Dia temanku sejak SD. Sampai sekarang aku selalu sekelas dengannya. Dan aku sudah diamanahkan ibunya Selena untuk selalu membantu Selena. Jadi aku cuma bisa sabar.
“Aiko, pinjam catatan matematika, dong!” ujar Selena ketika sedang bersiap-siap pulang.
“Memangnya kenapa?” tanyaku.
“Hehe… Tadi aku ketiduran..” jawabnya sambil cengengesan.
“Ckckck…” kataku sambil menggelengkan kepala.
“Boleh, ya???” pintanya lagi.
“Iya, iya.. Nih. Tapi kembaliin besok, ya!” kataku seraya menyerahkan catatan matematika milikku.
“Makasih, Aikoo! Kamu baik, deh!” seru Selena sambil tersenyum seraya mengambil catatanku.
“Hmm.. Apa katamu, deh..” kataku.
“Hehe.. Dadaaaah..” pamit Selena lalu beranjak pergi..
Besoknya aku menghampiri Selena di tempat duduknya.. Untung saja aku sekelas dengannya, jadi bisa kutagih catatanku langsung setelah tiba di kelas.
“Selena, bukuku mana?” tanyaku.
“Oh, iya. bentar.” jawab Selena seraya mengambil buku catatanku dari tasnya. ”Nih bukumu. Makasih, ya….” ujarnya sambil menyerahkan buku itu padaku. Saat aku menerimanya, aku kaget dengan kondisi bukuku!
“Kok jadi lecek gini, halamannya?! sampulnya kok robek?!” seruku.
“Ah, itu…”
“Selalu aja kayak gini! Kamu selalu minjam barang-barangku, tapi dikembaliin dalam kondisi rusak!” seruku memotong ucapan Selena.
“Maaf, Aiko. Aku…”
“Gimana aku mau belajar, kalo bukuku kayak gini?? Aku benci kamu!” seruku memotong ucapan Selena lagi seraya berlari keluar kelas. Terserah mau jadi pusat perhatian atau apa!
Tiba-tiba, aku menabrak seseorang. Begitu kulihat siapa yang kutabrak, aku benar-benar ketakutan! Gawat, dia ketua The Yankees, kelompok yang semua anggotanya cewek dan ditakuti seluruh murid. Dia kakak kelasku. Ada anggota The Yankees lainnya juga, lagi!
“Ma.. maaf, kak..” ucapku terbata-bata.
“Maaf katamu?! Kamu kira cukup minta maaf?!” seru Kak Bianca, sang ketua geng.
“Ta.. tapi, kak. A.. aku gak sengaja..” ujarku masih terbata-bata.
“Gak ada tapi-tapian!” seru Kiara, salah satu anggota The Yankees, sambil menarik tanganku. Dan itu sakit!
“Kiara, lepasi!” tiba-tiba teriakan Selena terdengar. Memang, Selena lumayan dekat dengan The Yankees.
“Hai Selena! Mau gabung? Ada yang cari masalah, nih.” ajak Kak Bianca.
“Dia temanku, kak. Tolong lepasin dia.” ucap Selena.
“Oh, dia temanmu?” tanya Kak Bianca.
“Untung kamu temannya Selena!” seru Kiara sambil melepaskan tarikannya seraya mendorongku.
“Mau ikut, Sel?” tanya Bianca.
“Gak usah, kak. Aku mau diskusi sama teman buat tugas kelompok.” jawab Selena.
“Oh, ya udah.. Duluan, ya.” kata Kak Bianca seraya pergi diikuti anggota The Yankees lainnya.
“Makasih, Sel. Kamu udah nolongin aku.” kataku.
“Gak usah dipikirin. Anggap aja ini permintaan maaf aku karena selalu ngembaliin barang-barang kamu dalam keadaan rusak.. Yang ngerusak itu adekku, pelampiasan kalo dia marah sama Kak Bianca.” jelas Selena.
“Kak Bianca kakakmu?!” tanyaku. Beneran, deh! Aku baru tau!
“Sssttt!!! Jangan keras-keras ngomongnya.. Iya, dia kakakku. tapi kamu diem-diem aj,yaa..Kan kamu sahabatku..” pinta Selena..
Huft.. Selena memang anak yang selalu penuh kejutan.. Namun, kejutannya itu membuatku bersahabat dengannya.. x)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar