Senin, 06 Desember 2010

San*

Sougi1 untuk Tatsuya Takenaga di pagi hari yang mendung. Entah cuaca turut berduka atas kepergian Tatsuya, atau memang hanya sekedar membersihkan polusi udara. Sougi dilaksanakan di kuil Yugishima. Tamu mulai berdatangan dengan kostum yang sama, hitam-hitam. Tamu-tamu tersebut adalah sanak saudara dan kenalan-kenalan Tatsuya dan Adinda. Semua mengucapkan rasa berduka cita dan berbela sungkawa kepada Adinda dan keluarga besar Takenaga.
Kyo tak terlihat di ruang pertemuan ini. Ia sedang berada di kolam yang berada di belakang kuil, meskipun masih termasuk daerah kuil. Duduk di pinggir kolam dengan tatapan sendu. Matanya bengkak, terlalu banyak menangis. Terdapat sekitar lima ekor ikan koi yang memang ikan khas Jepang. Kyo melemparkan beberapa kerikil ke dalam kolam. Ikan-ikan koi tersebut yang awalnya berenang berkumpul, menjadi tersebar terpisah-pisah. Seakan-akan ikan-ikan itu berkata, “Aku tau kamu lagi sedih karena kehilangan ayahmu yang pasti kau sayangi,kau kasihi, kau cintai; marah karena ayahmu pergi karena bom yang dipasang orang tak bertanggung jawab. Tapi jangan melampiaskan kesedihan dan kemarahanmu pada kami, dong! Lagi pedekate, juga! Sekarang lagi masa kawin kami, nih!” kepada Kyo. Tapi bagaimanapun juga Kyo tak akan dapat mendengarkan suara-suara amukan, ocehan, dan omelan ikan-ikan koi tersebut. Beda spesies, gitu!
Tanpa disadari oleh Kyo, Hanami Takahashi (Hanami), teman sepermainan Kyo sejak kecil, telah berdiri di belakang Kyo. Hanami sangat mengerti perasaan sahabatnya itu. Ia sendiri juga baru kehilangan kakek tercintanya bulan lalu. Leukimia. Padahal ia curhat tak lain dan tak bukan hanya kepada kakeknya tersebut. Bisa dibilang ia adalah cucu emas, cucu kesayangan kakeknya.
Tak ingin melihat Kyo yang terus murung seperti itu, ia pun berusaha menghibur teman sepermainannya itu.
“Kyo.” panggil Hanami dengan lembut sambil menyentuh pundak Kyo pelan.
“Ng.. Hanami.” jawab Kyo sedikit terkejut mengetahui keberadaan sohibnya itu.
“Aku boleh duduk di sebelahmu?” tanya Hanami.
“Hmm..” jawab Kyo sambil mengangguk mengiyakan. Hanami pun duduk di sebelahnya. Pakaiannya saat ini manis kalau tak bisa dikatakan cantik, tak sesuai suasana. Rok rempel hitam berbahan katun dengan pita-pita kecil berwarna putih dan merah kecil-kecil sebagai hiasan pengganti ikat pinggang, memberikan kesan gothic yang imut. Blus hitam dengan kerah tinggi dan lengan renda berwarna putih. Sangat sepadan dengan roknya. Kyo sendiri mengenakan celana kain biasa warna hitam dan kaus lengan panjang warna hitam. Memang terkesan biasa karena hari ini Kyo tak ada semangat untuk memilih pakaiannya. Kalau perlu ia hanya mengenakan piyama bergambar Kenshi, tokoh anime Samurai X, yang pasti akan dikomentari panjang lebar oleh Adinda sangking tak-sesuai-dengan-suasana-nya.
“Kamu masih sedih?” tanya Hanami.
“Sangat..” jawab Kyo pelan. Bisakah aku tak bersedih lagi sementara kejadiannya baru tadi malam? Ingin Kyo berteriak seperti itu, namun ia tahu Hanami hanya berusaha untuk menghiburnya. Meskipun ia tahu itu hanya usaha yang sia-sia.
“Yang tabah, ya…” ujar Hanami sambil memeluk sahabatnya itu2 menenangkan. Tanpa terasa air mata kembali membasahi pipi Kyo. Begitu juga Hanami. Ia teringat pada kakeknya.
“Kenapa harus Oto-san? Kenapa enggak aku aja? Kenapa enggak nunggu Oto-san keluar dari mobil, lalu mobil itu meledak? Kenapa ledakan itu harus terjadi di mobilku? Kenapa harus aku yang kehilangan Oto-san? Kenapa? Kenapa?” tanpa sadar Kyo telah terisak di pelukan Hanami. Hanami hanya bisa menepuk-nepuk pundaknya pelan.
“Kamu yang kuat. Ini hanya cobaan. Semuanya pasti ada balasan. Kalau kamu kuat, kamu juga akan dapat balasannya. Mungkin bukan saat ini. Mungkin di masa yang akan datang. Kamu harus tabah. Tuhan enggak mungkin kasih cobaan lebih berat dari kemampuan umatnya. Kalau pun kamu yang pergi, aku yang akan kasihan. Aku baru saja kehilangan kakekku. Kalau kamu juga ikut menghilang, aku akan kesepian. Kamu tau sendiri kalau aku selalu dikucilkan. Lain denganmu. Kamu orang yang kehadirannya selalu ditunggu teman-teman. Layaknya matahari yang dibutuhkan oleh semua makhluk hidup. Lain denganku. Aku hanyalah semi3 yang telah kosong di musim gugur. Ketika musim panas, anak-anak kecil akan menangkapku dan menyimpanku di rumah. Meskipun mereka tahu aku akan mati di musim gugur. Begitu pula denganku. Aku hanya dibutuhkan untuk sasaran contekan PR. Selebihnya hanyalah seorang gadis kecil tak dikenal.” jelas Hanami dengan sedikit terisak. Ia kembali teringat kakeknya.
“Maaf telah membuatmu mengkhawatirkan aku. Sampai menghiburku seperti ini segala. Aku sudah baikan sekarang.” ucap Kyo akhirnya. Ternyata kamu menghiburku dengan baik. Ia melepas pelukannya pada Hanami dan menghapus air mata yang ada di wajahnya dengan punggung tangannya. Ia juga menghapus air mata Hanami, baik yang telah terjatuh di pipi maupun yang masih tergenang di mata, dengan tangannya.
“Tak apa. Aku cukup tenang telah menangis seperti ini. Kita ke dalam, yuk!” ujar Hanami sambil tersenyum tipis. Ia mengulurkan tangannya mengajak Kyo.
“Baiklah.” jawab Kyo menggandeng tangan Hanami4 dan berjalan beriringan menuju ruang duka dengan senyum menghiasi wajahnya. Begitu pula dengan Hanami.
Mereka berjalan beriringan menuju ruang duka. Kembali terbayang di mata Kyo kejadian tadi malam. Berbelanja buku (yang banyaknya minta ampun),makan malam, ledakan mobil. Bahkan dalam mimpinya tadi malam, ia bertemu Tatsuya. Dalam mimpinya, Tatsuya mengenakan kimono5 hitam dengan obi6 putih. Beliau sedang minum ocha7 di depan kotatsu8.
Saat memasuki ruang duka, Kyo dan Hanami berjalan dengan riang. Bahkan Kyo bersenandung kecil, lagu Rolling Star dari YUI. Semua tamu memandang dengan pandangan berbagai makna yang berbeda : kasihan, aneh, lucu, kagum, laper, haus, ngantuk, sedih, senang, bahagia (apa bedaxnya?), mual, pusing, sakit perut, pegal linu, encok… Kenapa jadi ngawur gini???? -__-“
Dengan perlahan Adinda menghampiri Kyo. Hanami melepaskan genggaman tangan Kyo dan beranjak menuju tempat orangtuanya. Kyo yang masih bersenandung halus sambil tersenyum tak menduga ibundanya itu akan memeluknya. Kyo merasakan air mata terjatuh dari mata bening Adinda pada pundaknya. Dan Adinda terkejut ketika Kyo berbisik, “Mama-san, ini di tempat umum. Masa Mama-san tidak malu. Aku malu dipeluk di tengah kerumunan orang banyak ini.”. Segera saja Adinda melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya.
“Oh, ya! Kamu sudah mendoakan Oto-san?” tanya Adinda.
“Astaga! Aku lupa! Aku mau berdoa dulu ya, Mama-san!” seru Kyo dan berlari menuju ruang doa. Bagaimana mungkin anak sekecil itu harus kehilangan ayahnya? Dan bagaimana bisa dia sekuat itu menghadapi semua ini? Sedangkan aku masih saja menangisi kepergian Tatsuya? Pertanyaan itulah yang muncul dalam hati Adinda.
Di ruang duka, Kyo berdoa dengan khusyuk untuk ayahnya. Tak lama kemudian, doanya selesai. Maka ia beranjak pergi menuju tempat Hanami. Hanami yang sedang ngobrol dengan sepupunya, Nadeshiko Fujisaki, menghentikan obrolannya dan mengalihkan pandangannya menuju Kyo yang telah menyentuh pundaknya.
“Hanami-chan, arigatou..” ujar Kyo.
“Sama-sama, Kyo-kun.. Bukankah kita bersahabat?” ujar Hanami.
“Iya. Kita bersahabat. SELAMANYAAAA!” jawab Kyo dengan meneriakkan kata selamanya. Hanami menutup kupingnya sangking kerasnya suara Kyo yang entah kenapa cempreng. Langsung saja para tamu yang datang mengalihkan semua perhatian mereka dan menghentikan apapun yang sedang mereka kerjakan tadi. Wajah Haami merah padam karena malu ketika menyadari dia dan “sahabat selamanya” ini jadi pusat perhatian semua tamu. Bahkan sampai para pengantar rangkaian bunga tanda duka dari kerabat-kerabat jauh yang tak bisa hadir menjatuhkan rangkaian bunganya. Untung saja tidak rusak. Ketika menyadari jadi pusat perhatian, Kyo tertawa pelan dan meminta maaf pada semua yang telah memperhatikan dirinya dan Hanami.

*tiga
1 ritual pemakaman orang yang meninggal
2di jepang, tak ada batas antara cewek dan cowok. Lain dengan Islam. Jadi, jangan diikuti, ya… ^_^
3sejenis jangkrik yang muncul hanya saat musim panas
4yang ini juga enggak boleh diikutin.! Kan bukan mukhrim, jadi enggak boleh bersentuhan sedikit pun .!
5pakaian adat Jepang
6sabuk
7teh
8meja kecil dan rendah dengan penghangat kaki

Tidak ada komentar: