Di dalam mobil, mereka tetap tenggelam dalam sunyi. Tatsuya duduk di depan kemudi. Adinda di sampingnya. Sedangkan Kyo duduk sendirian di belakang. Mereka semua hanya terdiam dengan ekspresi tegang kecuali Kyo yang terlihat bosan sedang melukis dalam udara.
Semua kesunyian itu akan terus berlanjut jika Kyo tidak mengucapkan kalimat yang mengejutkan di tengah perjalanan pulang.
“Can you turn on the radio1? It’s too quite until I’m sleepy2.” pinta Kyo.
“Mimizu okunai renji3!” latah Tatsuya.
“Yakitori4!” latah Adinda.
“Lho? Kok jadi pada latah setelah makan tadi? Eh, bukan! Setelah baca surat titipan! Memangnya isinya apa sih,Oto-san?” tanya Kyo mencurigai.
“Oh! Radio? Baiklah.” jawab Tatsuya.
“Surat ? Surat yang mana?” Adinda balik bertanya.
“Arigatou, Oto-san. Mama-san, masa lupa sama surat yang tadi dititipkan …….”
“Oh! Surat yang itu. Bukan apa-apa. Lebih baik kau tidur. Radionya juga telah dinyalakan,bukan?” jawab Adinda meyakinkan Kyo.
“Soredawa…” jawab Kyo menuruti dengan pasrah. Ia pun berbaring di sofa mobil, menghadap kursi Tatsuya. Tak sengaja ia melihat sebuah tas besar yang terlihat berat. Ia pun bertanya, “Oto-san, apa isi anata no kaban5,6 di bawah kursimu?”
Mendengar pertanyaan Kyo, Tatsuya mengerutkan keningnya. Membuat kerutan di wajahnya bertambah. Maka Tatsuya menjawab, “Tas? Oto-san tidak membawa tas apapun selain tas berkas yang tadi Oto-san bawa.”
Tatsuya pun menghentikan mobilnya ke pinggir jalan. Ia melirik ke bawah dan menambah kerutan di wajahnya ketika ia melihat tas itu juga. Ia pun menarik tas itu. Di tas itu terhubung kabel dengan kursinya. Ia terkejut dan segera beseru, “Kyo, Adinda, cepat turun dari mobil dalam sepuluh detik!”
“Tapi, kenapa?” tanya Kyo bingung.
“Turuti saja apa kataku! Hayaku7!” Tatsuya mulai berteriak.
“Cepat turun saja, Kyo!” jerit Adinda.
Dengan enggan Kyo turun dari mobil diikuti Adinda. Di setiap langkah mereka, Adinda berkomat-kamit berdoa semoga tidak terjadi hal buruk apapun. Sementara Kyo ngedumel sendiri dengan langkah kaki yang menghentak keras. Tak perlu waktu lama untuk merasakan mobil itu meledak terbakar. Shoushitsu8. Dan pada saat yang bersamaan Kyo dan Adinda menjerit, “Kyaaaaaaaaaaaa!!!!”, terduduk, dan terisak sesegukan.
Sekitar lima belas menit kemudian, kepolisian terdekat menghampiri mereka. Ketika itu juga Adinda dan Kyo tidak berubah posisi maupun kegiatan. Terduduk dan menangis. Mau apa lagi yang dilakukan? Mengamuk? Tak akan menyelesaikan masalah! Hanya akan merugikan diri sendiri dan orang lain. Mengganggu masyarakat sekitar.
Polisi pun menginterogasi Adinda dan Kyo. Adinda hanya menjawab sekadarnya layaknya mayat hidup, tak ada ekspresi. Sedangkan Kyo tidak menjawab satu pertanyaan pun, tetap bergeming berdiam terisak. Polisi yang berusaha menenangkan mereka akhirnya menyerah. Mereka kembali ke pos masing-masing.
Adinda dan Kyo memilih pulang naik taksi dari pada diantar polisi. “Sejujurnya kami masih shock dan membutuhkan ketenangan tersendiri. Gomenasai9.” ujar Adinda ketika ditawarkan untuk diantarkan pulang oleh polisi sambil membungkukkan badannya. Kyo masih tak bereaksi hingga di dalam taksi. Tak ada lagi Kyo yang ceria, penuh humor, cerewet. Tak ada lagi senyuman manis Kyo, humoran Kyo, tawa Kyo, rengekan Kyo. Hilang semua. Yang tersisa hanyalah tangis Kyo, air mata Kyo, penyesalan Kyo.
Begitu pula dengan Adinda. Adinda yang dahulu penuh kehangatan, kelembutan, keramahtamahan. Saat ini menjadi Adinda yang pemurung, terus-menerus bersedih, sering melamun. Meski pun ini baru beberapa jam setelah kepergian Tatsuya yang memang “mendadak” dan “tak terduga” itu. Namun, siapa yang dapat mengatur hidup seseorang? Siapa yang dapat memutar kembali waktu? Siapa yang dapat menghidupkan seseorang yang telah meninggal?
Pada akhirnya, mereka telah tiba di apato10 Takigawa. Setelah membayar taksi, mereka berjalan menuju ruang apato mereka, 107. Setelah memasuki pintu otomatis apato Takigawa, mereka berjalan menuju lift yang memang berada di sebelah reception. Lift beranjak naik menuju lantai 6. 101, 102, 103, 104, 105, 106, 107! Dengan segera Adinda memasukkan kunci apato, memasukinya bersama Kyo, dan mengunci pintunya kembali.
Tanpa ada pembicaraan lagi Kyo memasuki kamar mandi untuk melakukan kegiatan yang memang telah menjadi kesehariannya : sikat gigi sebelum tidur, cuci kaki, cuci tangan, dan cuci muka. Setelah semua rutinitas tersebut selesai, Kyo mengganti pakaiannya yang penuh abu berwarna hitam dengan piyama. Lalu pergi menuju kamar tidurnya. Masih tanpa berbicara. Di kamarnya, iia berbaring di tempat tidurnya. Air mata yang telah terhenti tadi kembali menetesi pipinya. Sayang, matanya tak bisa diajak kompromi. Segera saja ia tertidur menuju dunia mimpi.
Tak berbeda dengan Kyo, Adinda segera memasuki kamar mandi dan melakukan rutinitas yang sama : sikat gigi, cuci kaki, cuci tangan, cuci muka, dan ganti baju. Di kamarnya, ia berbaring di kasurnya sambil menangis kembali menatapi foto Tatsuya yang sedang tersenyum ringan. Bagaimanapun juga, Tatsuya adalah suaminya. Suami yang sangat dicintainya. Suami yang sangat mencintainya. Suami yang mampu menghentikan air matanya yang menghujani pipinya seperti saat ini.
Berbeda dengan Kyo, matanya sudah lelah namun tak bisa diajak kompromi untuk tidur. Pada akhirnya, Adinda terjaga hingga pagi. Menangisi foto Tatsuya.
*dua
1bisakah kau menyalakan radio
2ini terlalu sunyi sehingga aku mengantuk
3cacing dalam kompor
4sate ayam
5tas milikmu
6orang-orang di Jepang, terhadap orang yang akrab, sekali pun orang tersebut lebih tua, mereka tetap memanggilnya “kamu” atau dengan sebutan nama.
7cepat, segera
8hangus terbakar
9maafkan saya
10apartemen
Tidak ada komentar:
Posting Komentar